Selamat Datang di Website Resmi Desa Manikliyu, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Media komunikasi dan transparansi Pemerintah Desa Manikliyu untuk seluruh masyarakat. -- selengkapnya...

Artikel

Sejarah Desa Manikliyu

07 Agustus 2018 12:38:09 Administrator

Sekilas ketika kita mendengar Manikliyu, maka dengan mudahnya kita menafsirkan bahwa manikliyu terdiri dua asal kata yakni manik yang artinya mirah atau permata dan liyu dalam bahasa bali yang artinya banyak. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Manikliyu adalah desa yang memiliki banyak manik atau permata. Akan tetapi, setelah kami melakukan wawancara dengan seorang narasumber yang merupakan seorang tokoh agama sekaligus adalah tokoh tetua di desa Manikliyu yakni Bapak Jero Mangku Resi, maka kami mendapatkan sebuah informasi yang sangat utuh dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena disertai dengan bukti asli berupa prasasti Manikliyu yang dituangkan ke dalam sebuah lontar yang sudah berumur ribuan tahun.

tt r

 

Tampilan luar lontar prasasti Manikliyu

sumber: Jero Mangku Resi

Dari wawancara tersebut diperoleh kebenaran bahwa Desa Manikliyu atau Manikeliyu dulunya disebut desa Manikmerinci. Dari asal katanya yaitu manik yang merupakan nama seorang laki-laki yang telah menikah dan mempunyai 16 orang anak yang kesemuanya dapat bertahan hidup, sedangkan kata merinci dalam bahasa bali yang berhubungan dengan buah-buahan yang artinya banyak. Kata merinci ini diambil karena 16 orang anak (banyak) tersebut dapat bertahan hidup. Akhirnya setelah bebarapa lama manikmerinci diubah menjadi manikeliyu atau manikliyu karena merinci dan liyu memiliki persamaan arti yaitu banyak.

 

Manik yang memiliki banyak anak dalam bahasa bali disebut mebrayutan, sehingga Manik tersebut dipanggil dengan sebutan Pan Brayut dan istirinya dipanggil Men Brayut. Men Brayut melahirkan 16 orang anak ini disebuah tempat yang pada akhirnya ditempat itu dibangun sebuah pura yakni Pura Tebenan yang sekarang lokasinya berada di sebelah Utara Desa Manikliyu tepatnya berada di wilayah banjar Saap yang merupakan bagian dari desa Manikliyu. Pura Tebenan ini dibangun pada tahun 877 SM. Berdasarkan prasasti yang ditemukan di pura ini, diceritakan bahwa pura Tebenan dibangun pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Warmadewa Jayawardana.

 

Ketika ke 16 orang anak tersebut menginjak dewasa, Desa Manikliyu terpecah menjadi 4 desa yaitu Desa Manikliyu, Desa Bayung Cerik, Desa Ulian, dan Desa Lembean. Sehingga sampai sekarang masih ada penyebutan nama seseorang ditambahkan kata Pan untuk laki-laki dan Men untuk perempuan. Dari 4 desa tersebut Desa Manikliyu merupakan desa utama karena prasasti yang ditemukan hanya terdapat di Banjar Saap, Desa Manikliyu dan lebih tepatnya di Pura Tebenan. Sampai sekarang ke empat desa ini masih menyungsung di Pura Tebenan yang merupakan pura tertua di Desa Manikliyu dan dilakukan upacara di Pura Tebenan setiap hari anggarkasih julungwangi.

 

ee

 

Tampilan luar lontar prasasti Manikliyu

sumber: Jero Mangku Resi

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Peta Desa

Layanan E - LAPOR

    Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Statistik Penduduk

LAKI-LAKI
926 Jiwa 
PEREMPUAN
941 Jiwa 

Sinergi Program

Prodeskel Pajak Online

Aparatur Desa

Info Media Sosial

Galeri Foto

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Komentar Terkini